PENJELASAN MENGENAI SERAGAM KONVEKSI

PENJELASAN MENGENAI SERAGAM KONVEKSI

seragam konveksi

seragam konveksi

Seragam kerja sering dipakai oleh pegawai pemerintah atau perusaahan swasata. Tetapi apa arti dari seragam kerja itu sendiri?, berikut merupakan definisi-definisi mengenai seragam kerja :

A. Definisi yang ditinjau dari Efek Psikologis

Dulu mengenakan seragam kerja itu adalah dominasi pegawai negeri, sipil atau ABRI. Tetapi sekarang pun pegawai swasta pun bertambah banyak yang mengenakannya, bahkan Ada yang mau mengenakannya sejak dari rumah. Ada juga yang memasukkannya di tas kerja dulu, lalu memakainya di toilet sebelum masuk kantor.

Umumnya memakai seragam kerja adalah wajib, biasanya dengan alasan karena perusahaan susah menghafal orang satu persatu, maka salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan seragam konveksi. Atau alasan lainnya adalah untuk identitas profesi dan institusi, contohnya para jurnalis yang ditugaskan kantornya untuk sebuah peliputan. Mereka biasanya memakai seragamnya untuk identitas apalagi jika tugasnya di kawasan yang berbahaya. Seragam dinilai penting untuk membedakan identitas profesi, institusi, dan eksistensi.

Seragam konveksi juga digunakan untuk membangun kepercayaan pihak lain dengan cepat. Contohnya seseorang akam mudah percaya terhadap orang lain yang datang ke rumah dengan memakai seragam petugas atau pegawai departemen. Dengan mudahnya membangun kepercayaan melalui seragam, banyak penipu yang berhasil lolos dengan menggunakan seragam. Selain itu seragam kerja juga dipakai untuk penanda jabatan kerja seseorang di perusahaan itu sendiri. Contohnya pada perusahaan yang membedakan seragam kerja pegawainya untuk level staff, supervisor, dan manajer.

Pada umumnya pada setiap perusahaan ada efek psikologis tertentu yang dirasakan karyawan dengan aturan penggunaan seragam konveksi. Dengan menggunakan seragam konveksi kerja bisa membuat orang tampil lebih pede, ada juga yang sebaliknya. Seragam juga bisa membuat orang merasa bangga dengan statusnya, tetapi ada juga yang sebaliknya.

Perlu dipikirkan dengan cermat terkait dengan sejauhmana seragam kerja itu nantinya dapat memberi kontribusi terhadap kesatuan kerja, kepuasan kerja, peningkatan kinerja dan kepentingan perusahaan pada pihak luar yang terkait. Jangan sampai berdampak buruk pada pemakainya.

B. Seragam bisa menyebabkan False Group Think

Bagi yang telah menerapkan seragam kerja yang lamanya sudah bertahun-tahun, efek psikologis yang perlu dihindari adalah munculnya false group think. Ketika individu sudah disatukan ke dalam satu grup, lama kelamaan akan melahirkan group think model yang dapat mengandung resiko dan perlu dikhawatirkan. Group think mengacu pada pemikiran yang menyimpang yang membuat grup menjadi rendah kapasitas rasionalnya sehingga menjadi tidak efektif dan tidak produktif. Biasanya yang menurunkan kapasitas rasional didukung oleh:

  • Orang yang berani melanggar aturan orang lain
  • Orang yang merasa selalu benar
  • Orang yang suka memberi stigma orang/kelompok lain sebagai pihak yang lemah.
  • Orang yang mempunyai sifat yang kurang jelas sikap, opini, dan keputusan personalnya karena kalah oleh grup.

Untuk contohnya seragam kerja yang memicu perasaan merasa hebat yang mengakibatkan orang arogan, mendiskriminasikan orang lain tanpa alasan, merasa paling sah berbuat sesuatu yang menganggu orang banyak. Misalnya menutup jalan umum, menyepelekan pihak lain, dan yang lainnya.

Untuk mengatasinya, terapkan pemikiran dan kesadaran yang sehat mengenai seragam kerja dengan kualitas kinerja dengan kontribusi nyata bagi masyarakat. Perilaku yang harus dilakukan tidak hanya sebatas tulisan atau simbol di seragam, tetapi dengan aksi nyata dengan pelayanan berkualitas sampai etika dan integritas yang baik.

C. Seragam untuk memperkuat budaya

Tujuan seragam konveksi itu bukan untuk gaya, tetapi untuk mempersatukan berbagai karakter dan kepribadian individu pada waktu dan kondisi tertentu. Selain itu seragam kerja itu harus menjadi sarana menciptakan budaya kerja. Semua perusahaan memiliki budaya, perbedaannya adalah pada kuat lemahnya budaya. Budaya kuat adalah perilaku yang mencerminkan nilai-nilai, paradigma berpikir, atau standar kualitas operasi organisasi.

Sedangkan budaya lemah adalah budaya yang tidak sinkron sama sekali atau hanya setengah-setengah. Nilai-nilai perusahaan yang hanya tertulis pada seragam, tetapi perilaku operasinya bertentangan. Fungsi seragam hanya sekedar fashion atau bahkan bisa melahirkan group think yang negative.

D. Seragam untuk kultur organisasi

Membangun budaya organisasi itu mudah tetapi untuk membangun budaya yang kuat perlu perilaku sesuai nilai dan paradigm yang ada. Lebih-lebih jika cakupannya area yang luas, pemikiran yang lemah, apalagi jika politiknya tidak jelas. Itu bisa dibilang mustahil.

Maka dari itu apapun yang bisa kita jadikan sebagai alat untuk membangun budaya yang kuat, termasuk seragam konveksi. Ada juga yang menilai kapasitas seragam kaitannya dengan budaya itu masih sangat dikit.

Belum tentu orang yang memakai seragam konveksi di BUMN, instansi pemerintah, bank swasta, atau yang lainnya, menjalankan nilai-nilai yang harus dipatuhi. Minimal orang yang memakai seragam konveksi seragam itu dapat mewakili standar budaya insitusi tersebut. Seragam konveksi juga dapat dijadikan sebagai alat untuk mempertegas budaya organisasi yang belum ternyatakan melalui lambang.

Perusahaan yang menganggarkan seragam kerja, ini bisa digunakan sebagai saluran memperkuat budaya organisasi. Yang biasa dipermasalahkan adalah budget-nya, kualitas kain atau warnaya seragam konveksi. Konveksi seragam kerja, Amanah Garment bisa menjadi tempat pembuatan seragam kerja anda karena konveksi ini sudah terkenal dan banyak menghasilkan seragam yang berkualitas bagus dengan kain dan warna yang sesuai dengan keinginan anda.